Wall Street Terbakar, Dow Jones Catat Rekor Terendah 2026
Jakarta, Wartajiwa.com – Pasar saham Amerika Serikat mengalami penurunan tajam pada Rabu (18/3/2026), dengan Dow Jones Industrial Average anjlok 768,11 poin atau 1,63% ke level 46.225,15—level penutupan terendah sepanjang 2026. Sepanjang pekan, S&P 500 turun 2,02%, Nasdaq melemah 1,24%, dan Dow Jones ambruk 3,01% di tengah eskalasi perang Iran dan lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi.
Sementara Wall Street terbakar, Indonesia justru terhindar dari penurunan tajam berkat libur Lebaran yang menutup perdagangan IHSG pada 18-31 Maret 2026. Namun, ini bukan keselamatan sejati—hanya penundaan. Ketika pasar dibuka kembali, IHSG berpotensi mengalami koreksi tajam mengikuti jejak bursa global yang telah ambruk lebih dulu.
Yang lebih mengkhawatirkan, tidak hanya saham—harga emas, kripto, dan hampir semua aset keuangan turun drastis dalam apa yang disebut analis sebagai “flight to cash”—pelarian massal investor ke likuiditas tunai di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang ekstrem.
Inflasi Struktural dan Ancaman Minyak US$107 per Barel
Chief Investment Officer CrossCheck Management Todd Schoenberger menilai lonjakan inflasi dipicu faktor struktural, bukan sementara. “Angka yang lebih tinggi dari perkiraan ini berkaitan dengan tarif. Logam, input industri, dan biaya manufaktur semuanya mengalami kenaikan,” ujarnya. “Ini adalah inflasi struktural, bukan sementara, dan kemungkinan akan memengaruhi kebijakan moneter hingga kuartal ketiga.”
Data harga produsen AS (PPI) naik lebih dari yang diharapkan pada Februari, dengan PPI utama meningkat 0,7% dari bulan ke bulan dan PPI inti naik 0,5%—keduanya di atas perkiraan 0,3%. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak kenaikan harga energi sejak perang Iran dimulai belum sepenuhnya tercermin dalam data ini.
Harga minyak dunia melonjak dengan Brent naik 3,83% ke US$107,38 per barel dan WTI ditutup di US$96,32 per barel. “Jika harga minyak tetap tinggi, kita tahu dampaknya akan merembet ke seluruh ekonomi,” ujar Chief Investment Officer Savvy Wealth Anshul Sharma.
The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah dan menunjukkan bahwa mereka tidak akan menurunkan suku bunga sampai inflasi mereda—meskipun masih memproyeksikan satu penurunan suku bunga tahun ini dan satu lagi pada 2027. Namun, dengan inflasi struktural yang terus meningkat, proyeksi ini semakin tidak realistis.
Nasib IHSG: Terancam Gap Down dan Panic Selling Usai Lebaran
Sementara Wall Street ambruk, IHSG justru terhindar dari penurunan tajam karena bursa ditutup untuk libur Lebaran sejak 18 Maret hingga 31 Maret 2026. Namun, sebelum tutup, IHSG sudah menunjukkan tren penurunan: sejak awal 2026, IHSG jatuh 17,81% year-to-date dengan investor asing mencatatkan net sell hingga Rp22,2 triliun.
Ketika bursa dibuka kembali pada 31 Maret atau 1 April 2026, IHSG berpotensi mengalami koreksi tajam mengikuti penurunan bursa global yang telah terjadi selama libur. Investor yang kembali dari libur akan menemukan lanskap pasar yang jauh lebih buruk dibanding ketika mereka tinggalkan—Wall Street sudah ambruk, harga minyak melonjak, rupiah melemah ke Rp17.000, dan defisit APBN membengkak.
Libur Lebaran bukan menyelamatkan IHSG—hanya menunda kepanikan. Ketika pasar dibuka, semua tekanan negatif yang tertunda akan meledak sekaligus: gap down yang besar, panic selling, dan potensi trading halt seperti yang terjadi pada Januari 2026 ketika IHSG sempat trading halt dua kali karena jatuh lebih dari 8%.
Fenomena Flight to Cash: Saham, Emas, dan Kripto Kompak Hancur
Dalam kondisi normal, ketika saham turun, investor biasanya lari ke aset safe haven seperti emas. Namun, kali ini berbeda—emas juga turun drastis. Sejak awal 2026, harga emas mengalami koreksi tajam setelah sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa.
Head of Metals Strategy MKS PAMP SA Nicky Shiels menilai Januari 2026 sebagai periode paling volatil bagi logam mulia dan membuka ruang koreksi lanjutan menuju level yang lebih sehat secara teknikal. Secara historis, emas berpotensi turun 20-40% setelah mencapai puncak.
Kripto juga tidak luput dari penurunan. Sejak awal 2026, Bitcoin turun 23,59% dan Ethereum ambruk 33,45%. Mayoritas harga kripto, terutama stablecoin, berada di zona merah—menunjukkan bahwa bahkan aset digital yang dianggap “alternatif” tidak kebal dari kepanikan pasar global.
Pola yang terjadi adalah “flight to cash”—investor menarik dana dari semua aset berisiko dan menyimpan dalam bentuk tunai atau dolar AS yang dianggap paling aman. Indeks dolar AS (DXY) menguat 2,33% dalam sebulan terakhir, mencerminkan tingginya permintaan terhadap likuiditas.
CATATAN REDAKSI: Bersiap Hadapi Volatilitas Ekstrem!
Wartajiwa.com mencatat bahwa penurunan tajam Wall Street dengan Dow Jones anjlok 768 poin ke level terendah 2026 adalah sinyal bahaya bagi pasar global—termasuk Indonesia. Libur Lebaran yang menutup IHSG pada 18-31 Maret hanya menunda kepanikan, bukan menyelamatkan. Ketika bursa dibuka kembali, IHSG berpotensi mengalami koreksi tajam mengikuti penurunan bursa global.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah pola “flight to cash” di mana tidak hanya saham, tetapi juga emas dan kripto turun drastis—menunjukkan kepanikan ekstrem di pasar keuangan global. Inflasi struktural yang dipicu kenaikan harga energi dan tarif, ditambah The Fed yang tidak akan menurunkan suku bunga hingga inflasi mereda, menciptakan kombinasi beracun bagi pasar.
Redaksi mendesak investor Indonesia untuk bersiap menghadapi volatilitas ekstrem pasca-libur Lebaran. Pemerintah dan BI harus menyiapkan strategi stabilisasi untuk mencegah panic selling dan trading halt ketika pasar dibuka. Yang terpenting, ini adalah pengingat bahwa krisis global tidak mengenal libur—ketika dunia terbakar, menutup mata sejenak tidak menghilangkan api.
Penulis: Vincencius Vino
Editor: M Sobirin





