Mewartakan dengan Jiwa

Honda ‘Satu Hati’, AHASS ‘Kabeh Ganti’

ahass
dokumentasi Wartajiwa

WARTAJIWA.COM – Astra Honda Authorized Service Station (AHASS) selama ini dikenal sebagai standar emas pelayanan purna jual motor Honda di Indonesia. Dengan lebih dari 5.500 bengkel yang tersebar di seluruh nusantara, AHASS seharusnya menjadi jaminan kualitas dan ketenangan bagi jutaan pengguna motor Honda. Namun, deretan keluhan konsumen yang terus bermunculan—baik di media sosial maupun platform review—memaksa kita untuk bertanya: masih relevankah label “bengkel resmi” sebagai jaminan pelayanan terbaik?

Mekanik Muda, Pengalaman Minim: Standarisasi atau Standardisasi Masalah?

Pada Oktober 2024, akun resmi Instagram @welovehonda_id dibanjiri review buruk dari netizen yang kecewa dengan pelayanan di bengkel AHASS. Salah satu keluhan utama yang berulang kali muncul adalah mekanik yang terkesan muda dan kurang berpengalaman, meski PT Astra Honda Motor (AHM) mengklaim kompetensi teknisi AHASS distandarisasi dan terus diperbarui secara berkala melalui pelatihan berjenjang.

Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya pelatihan, melainkan pada implementasi di lapangan. Seorang customer melaporkan bahwa niat servis ambil PSL dan ganti kampas rem depan justru membuat motornya turun mesin karena mekanik ceroboh memasukkan selang injector cleaner. Kasus semacam ini mengindikasikan gap antara standardisasi prosedur di atas kertas dengan kemampuan teknis mekanik di lapangan.

Pengalaman seorang konsumen di Kompas.com mengonfirmasi keresahan ini. Mawar, seorang wanita berusia 24 tahun, mengaku direkomendasikan ganti roller saat servis ketiga, kemudian tiga bulan kemudian—pada servis keempat—mekanik menyuruh ganti roller lagi. Apakah ini kesalahan diagnosis atau strategi penjualan? Dalam kedua kasus, konsumen yang dirugikan.

Biaya Hampir Dua Kali Lipat: “Resmi” Bukan Berarti “Transparan”

Keluhan paling konsisten dari konsumen AHASS adalah soal biaya yang jauh lebih mahal dibanding bengkel umum. Seorang netizen melaporkan bahwa untuk perbaikan masalah serupa, AHASS menghitung estimasi Rp1,4 juta, sementara bengkel umum hanya Rp400 ribu—selisih hampir tiga setengah kali lipat.

Pengguna Twitter Banyu Sadewa bahkan mengaku trauma servis di AHASS yang menghabiskan biaya jutaan rupiah, sedangkan di bengkel pinggiran untuk perbaikan serupa hanya menghabiskan Rp255 ribu. Responnya? “(((KAGET))) td abis nyerpis motor di bengkel pinggiran habisnya segini doang. Pas mau bayar licereli gak percaya ‘HAH? BERAPA MAS?!’ karna pernah trauma nyerpis di bengkel AHASS habis jutaan.”

AHM merespons dengan pernyataan klise: setiap bengkel memiliki standar dan strategi berbeda dalam memberikan layanan purna jual, dengan AHASS memberikan fasilitas bengkel nyaman, ruang tunggu, serta garansi pekerjaan servis. Namun apakah WiFi gratis dan snack di ruang tunggu sepadan dengan biaya servis yang tiga kali lipat lebih mahal? Bagi konsumen berpenghasilan pas-pasan, ini bukan soal kenyamanan—ini soal keadilan ekonomi.

Perbaikan Tambahan: Rekomendasi atau Target Penjualan?

Salah satu modus yang paling mengkhawatirkan adalah rekomendasi penggantian komponen yang tidak perlu. Viral di media sosial pada Oktober 2021, seorang warganet yang pernah PKL di AHASS mengungkap bahwa meskipun spare part masih bagus, konsumen disuruh ganti untuk mencapai target penjualan toko—mulai dari kampas rem, v-belt, hingga kampas ganda.

AHM membantah dengan mengatakan teknisi akan mengonsultasikan terlebih dahulu kepada konsumen jika menemukan komponen yang memenuhi syarat pergantian, baik langsung maupun via telepon. Namun realitas di lapangan berbeda. Seorang konsumen melaporkan bahwa saat motor berusia setahun dengan kilometer rendah, mekanik AHASS merekomendasikan ganti as pulley dengan biaya Rp250 ribu, padahal di bengkel biasa ternyata cukup ganti laher tutup CVT seharga Rp60 ribu—dan masalah langsung selesai.

Pola ini menunjukkan dua kemungkinan: mekanik kurang kompeten dalam diagnosis, atau ada tekanan target penjualan dari manajemen bengkel yang membuat konsumen jadi “korban”. Dalam kedua kasus, konsumen yang dirugikan.

Motor Kembali Bermasalah Setelah Servis: Ketika Garansi Hanya Janji Kosong

Yang paling memprihatinkan adalah keluhan konsumen yang motornya kembali bermasalah tidak lama setelah servis. Konsumen bernama Indri melaporkan bahwa setelah mengeluarkan biaya Rp700 ribu untuk servis motor matik—jauh lebih mahal dari biasanya yang Rp300-400 ribu—mekanik menyatakan masih banyak komponen yang harus diganti, padahal saat ditanyakan ke tempat lain, tidak harus segitunya.

Kasus lain: seorang konsumen melaporkan hasil servis motor di AHASS tidak memuaskan meski ada fasilitas pijat gratis di ruang tunggu. Ironi yang menyakitkan: konsumen membayar mahal untuk mendapat servis yang tidak memuaskan, lalu harus kembali lagi—dan membayar lagi—untuk memperbaiki masalah yang seharusnya sudah diselesaikan.

Garansi pekerjaan yang dijanjikan AHM tampaknya hanya berlaku di atas kertas. Di lapangan, konsumen kesulitan mengklaim garansi karena alasan teknis yang berbelit-belit atau harus menunggu lama hingga masalah ditangani.


Catatan Redaksi:

Artikel ini disusun berdasarkan berbagai sumber kredibel termasuk laporan dari CNN Indonesia, Kompas.com, Motorplus-online, Gridoto, dan berbagai testimoni konsumen yang terverifikasi. Kami tidak bermaksud mendiskreditkan seluruh jaringan AHASS—kami yakin masih banyak bengkel AHASS yang memberikan pelayanan berkualitas. Namun, fakta bahwa keluhan serupa terus bermunculan dari berbagai wilayah menunjukkan adanya masalah sistemik yang perlu segera dibenahi oleh PT Astra Honda Motor.

Opini Redaksi:

Label “bengkel resmi” seharusnya menjadi jaminan kualitas, bukan alat marketing untuk membenarkan harga mahal dengan pelayanan di bawah standar. Standardisasi pelatihan mekanik tanpa pengawasan ketat di lapangan hanya akan menghasilkan mekanik yang “bersertifikat” namun tidak kompeten. Target penjualan spare part yang membebani mekanik akan menciptakan budaya overselling yang merugikan konsumen.

Yang dibutuhkan bukan sekadar ruang tunggu ber-AC atau WiFi gratis—konsumen butuh transparansi biaya, diagnosis yang akurat, mekanik yang kompeten, dan garansi yang benar-benar bisa diklaim tanpa ribet. Jika AHM serius menjaga reputasi AHASS sebagai bengkel resmi terbaik, maka audit mendalam terhadap bengkel-bengkel bermasalah dan sanksi tegas terhadap malpraktik harus segera dilakukan.

Konsumen membayar mahal bukan untuk membeli label “resmi”, tetapi untuk membeli ketenangan pikiran bahwa motor mereka ditangani dengan baik. Jika AHASS tidak bisa menjamin itu, maka label “bengkel resmi” hanya akan menjadi lelucon mahal yang dibayar konsumen.

Penulis: Atma Guritno
Editor: Vincencius Vino

Bagikan Warta Ini

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *