SIBOLGA, Wartajiwa.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Tapanuli dan Sibolga sejak Senin (24/11) malam hingga Selasa (25/11) pagi telah memicu bencana hidrometeorologi yang menewaskan sedikitnya 13 orang, melukai 37 warga, dan memaksa ribuan keluarga mengungsi dari rumah mereka.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Utara mencatat tujuh kabupaten/kota terdampak bencana, yakni Tapanuli Tengah, Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Nias Selatan, dan Padangsidimpuan. Hingga Rabu (26/11) pukul 08.00 WIB, tiga orang masih dinyatakan hilang di Tapanuli Selatan.
Seorang Ibu dan Tiga Anaknya Tewas Tertimbun Longsor
Salah satu kejadian paling memilukan terjadi di Dusun 1, Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah. Empat anggota keluarga—seorang ibu dan tiga anaknya—ditemukan meninggal dunia setelah rumah mereka tertimbun material longsor pada Selasa dini hari.
Korban teridentifikasi sebagai Dewi Hutabarat (33) bersama ketiga anaknya: Tio Arta Rouli Lumbantobing (7), Vania Aurora Lumbantobing (4), dan Ilona Lumbantobing (3). Saat tragedi terjadi, suami Dewi, Poliman Lumbantobing (37), sedang bekerja sebagai supir angkutan di luar kota.
Kepala Desa Mardame, Master Gultom, yang menemukan keluarga tersebut, menuturkan bahwa ia merasa curiga ketika melihat rumah korban masih tertutup rapat padahal sudah pagi. Terdapat jejak longsoran tanah di bagian belakang rumah. Bersama warga, ia memutuskan mendobrak pintu rumah yang terkunci. Di salah satu kamar, mereka menemukan keempat korban tertimbun material longsor.
“Longsor diperkirakan terjadi saat mereka tertidur. Hujan yang turun sejak malam membuat tebing di belakang rumah ambrol,” jelas Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati.
Poliman yang segera pulang setelah menerima kabar duka hanya bisa pasrah melihat istri dan ketiga anaknya telah tiada. Keempat jenazah telah disemayamkan di rumah keluarga di desa yang sama.
Tapanuli Selatan: Wilayah Terparah dengan 9 Korban Tewas
Kabupaten Tapanuli Selatan mencatat korban jiwa terbanyak dengan 9 orang meninggal dunia, tersebar di tiga kecamatan: 6 orang di Kecamatan Batangtoru, 1 orang di Kecamatan Sipirok, dan 1 orang di Kecamatan Angkola Barat. Belum ada informasi detail mengenai identitas korban dari ketiga kecamatan tersebut.
Bencana ini juga menyebabkan 58 warga luka-luka dan memaksa 2.851 jiwa mengungsi. Sebanyak 330 unit rumah rusak, terdiri dari 12 rumah rusak berat, 6 rusak sedang, dan 312 rusak ringan. Satu unit sekolah juga dilaporkan rusak.
Hasil kaji cepat BPBD menunjukkan 11 kecamatan di Tapanuli Selatan terdampak, meliputi Sipirok, Marancar, Batangtoru, Angkola Barat, Muara Batangtoru, Angkola Sangkunur, Angkola Selatan, Sayur Matinggi, Batang Angkola, Tanah Timbangan, dan Angkola Muaratai.
Yang lebih memprihatinkan, tiga jalur nasional penghubung Sumut bagian barat terputus total: Lintas Barat di Kelurahan Rianiate sepanjang 37 meter, Jalan Trans Sumatera di Desa Parsalakan dan Tobotan dengan empat mobil terseret ke jurang dan belum berhasil dievakuasi, serta longsoran besar yang menutup akses di Desa Pengkolan, Sipirok.
Sibolga: Banjir Bandang Hantam Pemukiman
Kota Sibolga mengalami kombinasi mematikan antara banjir bandang dan longsor. Air banjir setinggi 30-50 cm menggenangi empat kecamatan, sementara longsor melanda sejumlah kelurahan di Kecamatan Sibolga Utara dan Sibolga Selatan.
Kejadian paling parah dilaporkan di Jalan Perjuangan, Kelurahan Parombunan, Kecamatan Sibolga Selatan, di mana satu unit rumah tertimpa material longsor dan menyebabkan seorang ibu dan anaknya menjadi korban. Wakil Ketua DPRD Sibolga, Jamil Zeb Tumori, mengonfirmasi bahwa proses evakuasi sangat sulit dilakukan karena hujan lebat yang masih terus mengguyur.
Di kawasan Tangga 100 Jalan Sisingamangaraja, longsor menimbun penuh badan jalan dan menyeret satu unit mobil box berwarna merah. Longsor juga menutup akses di Jalan II Nomensen, Kelurahan Angin Nauli, Kecamatan Sibolga Timur.
Banjir bandang dengan arus sangat deras yang membawa material kayu turut melanda permukiman warga. Banjir mengalir deras dan menghantam rumah, menyeret kendaraan, hingga merusak sejumlah infrastruktur. Sebanyak 3 unit rumah dan 1 ruko dilaporkan terdampak, dengan 1 warga mengalami luka-luka.
Dampak Regional yang Masif
Di Mandailing Natal, sebanyak 561 kepala keluarga atau 2.244 jiwa terpaksa mengungsi. Banjir besar menghantam Kecamatan Muara Batang Gadis dan merendam empat desa dengan genangan mencapai 4 meter. Sebanyak 13 unit rumah rusak berat, 1 unit sekolah rusak, dan 85 hektare lahan pertanian terendam.
Kabupaten Tapanuli Utara mencatat 50 unit rumah terdampak dan 2 jembatan terputus. BPBD merekomendasikan jalur alternatif Pangaribuan-Silantom sebagai akses jalan sementara. Sebanyak 19 kepala keluarga tidur di pengungsian.
Tapanuli Tengah mengalami dampak paling luas dengan 1.902 unit rumah terdampak banjir di 9 kecamatan, meliputi Pandan, Sarudik, Badiri, Kolang, Tukka, Lumut, Barus, Sorkam, dan Pinangsori. Air setinggi 70-120 cm merendam permukiman di Desa Simasom dan Simorangkir.
Sibolga-Padangsidimpuan Lumpuh Total
Akses jalan Sibolga-Padangsidimpuan, salah satu jalur vital penghubung pantai barat dan timur Sumatera Utara, terputus total di beberapa titik. Sebuah mobil box ekspedisi dan mobil tangki BBM milik Pertamina dilaporkan tertimbun longsor di ruas jalan ini.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut memastikan distribusi BBM dan LPG dari Fuel Terminal Sibolga ke Tapanuli Selatan mengalami gangguan. Pola penyaluran disesuaikan melalui mekanisme alih suplai Regular-Alternative-Emergency (RAE) untuk menghindari kelangkaan energi di wilayah terdampak.
Satuan Brimob Polda Sumut mengerahkan dua unit SAR dari Batalyon C Tapanuli Selatan untuk membantu membuka akses jalan. Komandan Satuan Brimob, Kombes Pol Rantau Isnur Eka, mengatakan satu tim diarahkan melalui rute Sibolga dan tim lainnya melalui jalur Sipirok untuk menjangkau titik terdampak.
Penyebab: Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan cuaca ekstrem yang memporak-porandakan Sumatera Utara dipicu oleh pengaruh Siklon Tropis KOTO yang berkembang di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa kedua sistem cuaca signifikan ini meningkatkan pertumbuhan awan konvektif serta memicu hujan lebat dan angin kencang di wilayah Sumatera bagian utara.
BMKG merilis peringatan bahwa Bibit Siklon 95B masih berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau dalam 24 jam ke depan, disertai angin kencang dan gelombang tinggi 2,5-4,0 meter di Selat Malaka bagian tengah dan perairan timur Sumatera Utara.
Upaya Tanggap Darurat
Pemerintah daerah di seluruh wilayah terdampak telah mengaktifkan status tanggap darurat. Tim BPBD, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat bergotong royong membuka akses, mengevakuasi warga, dan menyalurkan bantuan darurat.
BPBD Tapanuli Selatan mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsor yang menutup sejumlah akses jalan. BPBD Tapanuli Tengah mendirikan tenda pengungsi dan mendistribusikan bantuan sembako kepada warga terdampak.
Pemerintah Kota Sibolga menyiapkan posko sementara dan bantuan kebutuhan mendesak bagi warga terdampak. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi longsor susulan di kawasan rawan.
Namun, bantuan darurat masih sulit sampai ke sejumlah lokasi akibat akses jalan yang terputus. Beberapa desa di pedalaman Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah masih terisolasi dan mengandalkan jalur alternatif yang kondisinya tidak ideal.
Pertanyaan yang Harus Dijawab
Bencana ini menyisakan sejumlah pertanyaan kritis: Mengapa sistem peringatan dini bencana tidak dapat menyelamatkan 13 nyawa yang melayang? Apakah ada pemetaan zona rawan bencana yang memadai di wilayah-wilayah yang terdampak? Dan yang paling penting, kapan pemerintah akan serius menangani mitigasi bencana dan tidak hanya fokus pada tanggap darurat setelah korban berjatuhan?
Abdul Muhari menegaskan bahwa seluruh data pendataan seperti jumlah warga dan wilayah terdampak masih bersifat sementara dan berpotensi mengalami perkembangan sesuai hasil kaji cepat lanjutan di lapangan. Dengan potensi cuaca ekstrem yang masih berlanjut, angka korban dan kerusakan dikhawatirkan akan terus bertambah.
Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng perbukitan dan aliran sungai diminta tetap meningkatkan kewaspadaan. Aparat meminta warga segera melapor apabila melihat tanda-tanda pergerakan tanah seperti retakan baru, pohon yang mulai miring, atau suara gemuruh dari arah perbukitan.
CATATAN REDAKSI:
Artikel ini disusun berdasarkan sumber kredibel termasuk laporan resmi BPBD Sumatera Utara (26 November 2025), keterangan BNPB melalui Kepala Pusdatin Abdul Muhari (26 November 2025), data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (25 November 2025), serta liputan dari berbagai media.
Warta Jiwa berkomitmen mewartakan dengan jiwa, menyajikan berita yang objektif dan berpihak pada masyarakat. Tragedi yang merenggut 13 nyawa ini bukan sekadar bencana alam—ini adalah cerminan kegagalan sistemik dalam mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat di daerah rawan. Kisah Dewi Hutabarat dan ketiga anaknya yang meninggal tertidur dalam rumah mereka, atau Poliman yang kehilangan seluruh keluarganya saat bekerja mencari nafkah, adalah pengingat keras bahwa sistem peringatan dini dan pemetaan zona bahaya harus diperkuat segera.
Penulis: Vincencius Vino
Editor: Atma Guritno




